Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di Gereja

Situasi dan kondisi pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti pada sekolah di wilayah-wilayah minoritas tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Hal tersebut disebabkan oleh minimnya tenaga katekis dan/atau guru agama Katolik di sekolah-sekolah. Selain itu penyebaran peserta didik secara sporadis di sekolah-sekolah semakin mempersulit penanganan pelayanan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di sekolah setempat. Akhirnya banyak peserta didik di sekolah negeri dan swasta non Katolik yang tidak memperoleh pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di sekolahnya. Dalam hal di sekolah terdekat terdapat Guru Pendidikan Agama Katolik, maka pihak sekolah bisa bekerja sama dengan sekolah terdekat tersebut, agar peserta didik memperoleh haknya. Akan tetapi jika di wilayah tersebut tidak terdapat guru pendidikan agama Katolik di sekolah, pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Katolik dilaksanakan secara bekerja sama dengan Lembaga Keagamaan setempat, dalam hal ini Gereja Katolik.

Untuk mengatasi hal tersebut, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik telah menerbitkan sebuah Surat Keputusan dengan Nomor: DJ.IV/Hk.00.5/204/2014 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Pada Lembaga Keagamaan Katolik.

Sesuai dengan Surat Keputusan tersebut, maka siswa-siswa beragama Katolik yang secara sporadis tersebar di berbagai sekolah dan tidak mendapatkan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti di sekolahnya karena tidak adanya tenaga guru agama Katolik, maka pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik bisa dilaksanakan di: Gereja Paroki, Stasi, Lingkungan. Gereja hendaknya membetuk sebuah Tim Pengelola yang menangani atau mengelola hal itu bekerja sama dengan Kementerian Agama setempat.

Kemudian kelas yang dibentuk diajar oleh: Guru Agama Katolik, Katekis, Pembina Agama Katolik, atau Penyuluh Agama Katolik. Tempat pelaksanaan bisa diatur sesuai kondisi setempat, misalnya di aula gereja atau di suatu sekolah yang bisa dijangkau oleh para peserta didik. Agar nilai yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan, maka kurikulum yang dipakai harus mengacu pada kurikulum Pendidikan Agama Katolik yang diberlakukan oleh pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: