Kekurangan Guru Agama Katolik

Dengan pencanangan tahun iman 2013 ini, kita diingatkan kembali betapa pentingnya membuka buku-buku lama untuk kembali diaktualkan pada zaman sekarang ini. Pokok-pokok iman Katolik yang kaya akan pola dan tuntunan hidup Kristiani harus tetap diwariskan turun-temurun. Tugas pewarisan ini ada pada semua umat yang telah dibaptis dan diutus melalui sakramen Krisma. Pengajaran pokok-pokok iman Katolik bisa dilakukan di dalam keluarga oleh orang tua kepada anak-anaknya, dalam kelompok di lingkungan dan paroki juga harus semakin digiatkan dan diintensifkan.

Salah satu keprihatinan adalah bahwa saat ini ada banyak anak Katolik yang berada di sekolah-sekolah negeri yang tidak mendapatkan pembelajaran Agama Katolik oleh karena memang tidak ada guru agama Katolik di sekolah-sekolah tersebut. Untuk banyak daerah, tidak pernah ada pengangkatan guru agama Katolik di sekolah-sekolah negeri, mungkin karena tidak ada pengusulan atau tidak ada yang memperjuangkan. Ditambah lagi karena memang siswa-siswa Katolik tersebut menyebar di banyak sekolah negeri dan di satu sekolah hanya ada beberapa anak, sehingga tidak mungkin untuk mengusulkan pengangkatan guru agama Katolik, jika jumlah dijadikan alasan atau syarat untuk mengangkat guru agama.

Oleh sebab itu paroki dan keuskupan melalui Komdik dan Komkat harus segera mengambil tindakan untuk menangani masalah siswa di sekolah negeri yang tidak mendapat pembelajaran pendidikan agama Katolik.

Karena keprihatinan tersebut di atas, maka saya mulai berpikir, mungkinkah kita membentuk sebuah gerakan untuk menjaring para guru agama Katolik sukarelawan, yang bersedia mengajar siswa-siswa yang tidak mendapat pelajaran PAK tersebut. Tentu semua itu Jer basuki mawa bea, harus ada yang mulai untuk menghimpun dana untuk memberikan insentif dan bantuan transport bagi para sukarelawan tersebut. Mungkin ide kecil ini, bisa dimulai dari tingkat paroki, misalnya di setiap paroki dibentuk seksi pendidikan agama yang berada di bawah bidang Pewartaan, dimana seksi ini memiliki beberapa guru agama sukarelawan yang tentu tetap menjalankan amanat Injil “orang yang bekerja patut mendapat upahnya”. Artinya guru agama sukarelawan tersebut tetapi diberi insentif atau bantuan transport dari dana yang dikelola oleh Paroki. Hal ini harus dikelola secara profesional, sehingga bisa mengundang hati para dermawan untuk mengalokasikan atau menyisihkan dananya untuk gerakan ini.

Atau bahkan ada yang mau membentuk LSM untuk mewujudkan ide ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: