Renungan: Lukas 13:1-9 Sabtu, 27 Oktober 2012

Dosa, Pertobatan, dan Penderitaan

Telah menjadi pandangan sejak zaman Perjanjian Lama dan bahkan sampai saat ini, bahwa orang yang mengalami penderitaan, musibah, dan semacamnya adalah akibat dari dosa. Seperti terungkap pada masyarakat di sekitar Yesus yang membawa kabar kepada Yesus tentang orang-orang yang mati secara mengenaskan karena dibantai oleh Pilatus. Dari percakapan dalam Injil, kita bisa menduga bahwa orang-orang tersebut menganggap bahwa orang-orang yang mati tersebut karena dosa-dosa mereka. Apakah memang demikian?
Waktu ada bencana tsunami di Aceh, tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa itu karena di sana perlu pembersihan dosa seperti zaman Nuh. Ini juga suatu bukti bahwa pandangan bahwa musibah dan penderitaan adalah akibat dari dosa. Marila kita coba renungkan.
Ada beberapa golongan jenis penderitaan:

  1. Penderitaan akibat dosa orang lain: Seseorang menderita karena ulah, kelalaian, dan perbuatan orang lain yang mengenai seseorang.
  2. Penderitaan karena hukum alam: dunia ini bersifat rapuh, mudah retak, mudah rusak. Orang menderita karena berada pada waktu dan tempat yang bisa mencelakakan dirinya.
  3. Penderitaan karena teguran/hukuman dari Allah: saya menemui yang model ini dalam kisah-kisah perjanjian lama, seperti kisah Nuh, kisah Sodom dan Gomorah, kisah raja Ahab, kisah menara Babel, kisah raja Daud, dan semacamnya. Dan tentang model penderitaan yang ini, saya masih terus merenungkannya, bertanya dan mencari jawaban. Gambaran singkatnya begini: seorang ibu mengingatkan anaknya kalau jangan bermain pisau, karena masih anak-anak bisa berbahaya. Anak tersebut tidak menghiraukan aturan dari ibunya, dan benar dia terkena pisau tangannya. Lalu dia mengatakan bahwa ibunya telah menghukum dia karena tidak menuruti kata-katanya. Maka apakah benar jika kita menghibur seseorang dengan mengatakan: “Yang tabah ya, ini cobaan dari Tuhan.”
  4. Penderitaan akibat dosa sendiri.: bahwa kebahagiaan sejati, kedamaian, kebaikan, dan keselamatan itu bisa didapat jika manusia hanya hidup di dalam Allah. Pada saat orang melepaskan diri dari Allah, dia telah memilih hidup di luar keselamatan. Ingat kisah perumpamaan anak yang hilang dan kisah Adam dan Hawa. Pada saat inilah Allah selalu menantikan orang tersebut untuk kembali, seperti dikisahkan dengan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah.

Maka mumpung hari masih pagi, masih banyak kesempatan untuk menghasilkan buah, marilah kita dengan segala kemampuan, waktu, kesempatan, dan apa saja yang kita miliki, kita mengabdi sepenuhnya pada Allah, menghasilkan buah-buah untuk menata kehidupan ini menjadi lebih baik. Karena hanya itulah hakekat hidup ini menghadirkan Kerajaan Allah mulai saat ini juga. Pohon ara yang tidak berbuah, biasanya ditebang untuk kayu bakar. Dan yang berbuah dia akan diselamatkan karena buahnya itu.

2 Tanggapan

  1. Hidup adalah perjuangan ada pengorbanan ada upaya ada tujuan yg hendak di capai. Pohon ara sdh 3 tahun . .tdk berbuah. . .petani ara pasti merugi baik waktu , tenaga, juga biaya pupuk siapapun orang berkata “rugi . .” Dan Tuhan Yesus dalam perumpamaan .minta untuk di tebang. Ingatlah, jangan sampai waktu dan kesempatan yang di anugerahkan Tuhan berlalu begitu saja . Marilah kita isi waktu yang di anugerahkan Tuhan dengan buah buah baik yang bisa di lihat dan di nikmati oleh banyak orang . Dengan berbuah” . . . .kita akan menyenangkan hati Tuhan sebagai pemilik kehidupan . .Amien

  2. Tuhan memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: