Renungan Jumat, 19 Oktober 2012, Lukas 12:1-7

Ahli Taurat dan Orang Farisi adalah tokoh-tokoh antagonis yang ditampilkan dalam kisah-kisah Perjanjian Baru. Banyak perkara yang ada pada mereka yang menjadi contoh hal yang negatif dan tidak benar. Salah satunya adalah sikap kemunafikan. Munafik adalah jurang antara kenyataan yang tampak dan kenyataan yang tidak tampak/tersembunyi.

Oleh kehadiran Yesus sebagai terang Injil, hal yang tidak tampak yang ada pada orang Farisi, sekarang menjadi terlihat jelas  termasuk tentang kemunafikan dan kebusukan mereka. Terang Injil menjadi tolok ukur tentang kebenaran sejati sampai saat ini. Kita bisa mengukur sesuatu benar di hadapan Allah atau sekedar baik di hadapan manusia tetapi sesungguhnya tidak berkenan pada Allah, dengan kebenaran-kebenaran yang ada pada Injil.

Pada zaman Yesus, rakyat terhimpit oleh penderitaan karena tekanan penjajah Romawi dan juga tekanan dari para pemuka agama. Yesus sungguh berpihak pada rakyat yang tertindas dan menjadi korban ketidakadilan dan korban kemunafikan. Yesus memberikan penghiburan dan harapan kepada mereka, sekaligus jalan keselamatan, sebuah cara agar jiwa-jiwa mereka tetap terselamatkan dan tidak jatuh karena tekanan dan ancaman dari orang-orang Farisi.

Kata ‘takut’ ditampilkan secara tegas dalam Injil hari ini. Tentang siapa yang harus ditakuti dan siapa yang tidak perlu ditakuti. Memang terlihat paradoksal tentang takut kepada Allah ini, ada sisi yang harus kita takuti, tetapi ada sisi yang memberikan harapan dan penghiburan. Orang Kristiani biasanya lemah di sisi “takut” pada Allah ini. Karena dalam renungan dan kotbah sering ditonjolkan tentang Allah yang mengasihi, dan sering mengaburkan tentang Allah yang juga punya kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.

Menjadi refleksi bagi kita pada zaman ini, apakah kita juga masih takut kepada Allah seperti yang Yesus wajibkan itu? Mungkin ya, mungkin  tidak.

Kenyataannya orang lebih takut kepada kemiskinan daripada takut kepada Allah. Orang lebih takut jika ditinggalkan oleh teman atau dikucilkan, orang lebih takut jika jatuh bangkrut dari pada jatuh ke neraka. Maka sering kita dengar berita di tv tentang kerusakan oknum-oknum di negeri ini, yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan dan kekuasaan. Orang lebih takut tidak akan mendapatkan jodoh daripada takut pada Yesus, maka sering iman dikorbankan karena yang satu ini.

Ketakutan kepada Allah dan kekuasaannya hendaknya mengalahkan ketakutan pada apa pun di dunia ini. Maka ancaman-ancaman dan tekanan terhadap iman kita kepada Yesus Kristus, tidak boleh menyurutkan iman kita.

Teladan ketaatan dan takut akan Allah adalah tokoh Bunda Maria. Dia mengabaikan berbagai ketakutan dan kekhawatiran duniawi demi melaksanakan kehendak Allah. Takut akan dikucilkan, takut akan dianggap sebagai wanita yang tidak baik dan sebagainya, tidak menyurutkan kepasrahan dan ketaatannya pada Allah.

Beranikah kita meneladan ketaatan dan ketakutan Bunda Maria pada Allah, dan juga melaksanakan sabda Yesus, bahwa yang wajib kita takuti hanya Allah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: