Pendalaman Iman – Kitab Suci, Menakutkan?

Sudah menjadi paradigma umum bahwa pendalaman iman dan pendalaman kitab suci menjadi sesuatu yang menakutkan atau membuat orang enggan untuk mendatanginya. Berbagai teori dan prediksi sering dilontarkan dalam rapat pengurus lingkungan maupun pengurus Dewan Paroki untuk mencari penyebab dan mengusulkan berbagai solusi agar pendalaman iman dan pendalaman kitab suci menjadi menarik dan diminati oleh umat.

Tidak berbeda dengan kebanyakan orang, di halaman ini saya mencoba untuk berteori. Pada saat ini saya mencoba untuk menorehkan sedikit pengalaman dicampur angan-angan dan dibumbui dengan sebuah obsesi  untuk terwujudnya masyarakat yang adil sejahtera yang gemar datang dan aktif dalam pendalaman iman dan pendalaman kitab suci.🙂 Selanjutnya kata ‘Pendalaman Iman’ saya maksudkan untuk mewakili Pendalaman Iman dan juga Pendalaman Kitab Suci.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, setiap ada suara sandal di luar, kepala melongok ke pintu, mungkin itu umat yang akan ikut hadir dalam acara pendalaman iman APP, eh ternyata bukan. Akhirnya dilanjutkan ngobrol lagi dengan 2 orang tamu dari lingkungan lain yang akan memandu jalannya acara pendalaman iman APP. Ketika ada tambah satu orang lagi, hati ini merasa agak terhibur, pasalnya sudah sampai pk. 19.15 yang datang cuma 5 orang ditambah 3 orang tuan rumah itu pun yang satu masih anak kecil. Sudah gitu saat pendalaman iman, umat terasa pasif, gak berani bicara ketika disilakan untuk ngomong..😦 capek dech…

Mungkin suasana seperti gambaran saya di atas ada juga yang mengalaminya, atau bahkan banyak. Lantas maunya apa? Apakah ingin, setiap ada pendalaman iman didatangi oleh seluruh warga kampung?  Maunya sih begitu. Wajar kan kalau sebagai manusia itu lebih senang kalau temannya banyak, apalagi kemerdekaan berserikat dan berkumpul dijamin oleh undang-undang :p. Yeah…, paling tidak kalau ada acara pendalaman iman, umat yang datang gak jauh beda kalau ada acara doa syukuran, gitu loh maunya, xi..xi..xi.. mimpi kali ye !

Kalau saya analisa, model pendalaman iman kita ini memang sering membuat yang datang menjadi miris, yang akhirnya besok-besok gak lagi-lagi mau datang. Pendalaman iman yang kita harapkan tentunya model yang interaktif, penuh pembicaraaan dari peserta yang satu ke peserta yang lain, pemandu maunya tinggal membuat rangkuman dan mengatur lalu lintas pembicaraan.

Umat sudah terbiasa dan nyaman dengan model Ibadat Sabda dan Liturgi Ekaristi, yang membawa umat dalam suasana pasif dan mengangguk-angguk. Maka ketika model pendalaman iman tetap menggunakan kerangka ibadat sabda, secara psikologis peserta akan terbawa dalam ESKALASI psikis suasana ibadat sabda dan ekaristi. Kalau maunya pemandu, pendalaman iman akan dibawa ke dalam suasana interaktif, maka juga harus menggunakan kerangka pertemuan yang membawa ESKALASI PSIKOLOGIS peserta ke suasana yang interaktif. Suatu pola yang menuntun peserta untuk tidak bisa lagi menahan untuk tidak berbicara, singkatnya membuat peserta kebelet untuk ngomong. Sebab biasanya justeru bikin peserta kebelet pipis, karena diberondong dengan pertanyaan yang membuat hatinya mengkeret.

Saya pernah mencoba dengan kerangka yang berbeda dengan kerangka ibadat sabda yang seperti disuguhkan dalam buku panduan. Dan itu membuat berbeda pula, bisa menimbulkan antusias peserta yang tidak seperti biasanya.

Di kota kami sudah dimulai di beberapa Paroki dengan model CANGKRUKAN rohani. Cangkrukan adalah tradisi masyarakat duduk-duduk bersama di pos ronda, di halaman rumah, di bawah pohon rindang dan dimana saja untuk ngobrol ngalor ngidul, dan itu sangat mengasyikkan bahkan kadang sampai lupa waktu.

Mengambil hikmah dari cangkrukan pada umumnya, cangkrukan rohani adalah duduk-duduk bersama kemudian diadakan tanya jawab dari peserta kepada peserta lain untuk membicarakan berbagai hal dalam hidup menggereja dan masalah-masalah pengetahuan keagamaan, dan sebagainya. Bahkan ada yang tanpa membuka dengan doa, tetapi ketika sudah ada beberapa orang dimulailah tanya jawab, ngobrol, diskusi masalah-masalah keimanan dan hidup menggereja. Semakin lama peserta semakin banyak yang datang, tetapi sebaliknya ada juga yang pulang lebih dulu karena ada keperluan pribadi. Suasana begitu bebas dan tidak formal. Dan itu ternyata cukup menarik dan memperkaya para peserta.

Terinspirasi dari pengalaman di atas, maka mungkin Pendalaman Kitab Suci juga bisa mengadopsi model cangkrukan. Dan itu kami akan melaksanakannya untuk pertemuan pertama di Paroki, diutamakan untuk anggota Dewan Paroki dan dibuka bagi umat, siapa pun yang mau datang untuk bergabung. Kalau biasanya pembicaraan bebas tema, kali ini pembicaraan difokuskan sesuai dengan Tema.

Harapannya, umat akan terbiasa dengan ngobrol membicarakan hal-hal yang menyangkut iman, dan juga sebagai alternatif untuk model pendalaman iman yang menakutkan dan kurang diminati oleh umat.

Salah satu suasana acara cangkrukan rohani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: