Oleh: Administrator | 24/10/2012

Renungan Lukas 12:49-53

Ayat-ayat Injil hari ini sering dijadikan bahan penyerangan oleh orang yang tidak beriman, kepada orang Kristiani. Dikatakan bahwa Yesus bukan membawa damai di bumi. Api dalam Kitab Suci lebih melambangkan pada karya Roh Kudus yang mengobarkan semangat dalam diri orang beriman. Setelah peristiwa Pentakosta di Yerusalem, maka karya Roh Kudus semakin terasa untuk mendorong orang minta dibaptis dan menjadi murid-murid Kristus.

Menjadi pengikut Kristus pada zaman Gereja purba sampai hari ini pun masih tidak mudah, tidak mudah bukan karena persyaratan yang diminta, tetapi tidak mudah karena harus berani mengambil keputusan untuk siap dikucilkan, siap disisihkan dari lingkungan orang yang tidak beriman.

Pertentangan yang muncul bukanlah dari pihak Kristus dan pengikutnya, tetapi dari pihak dunia yang tidak mengenal Kristus. Seseorang yang mengambil keputusan untuk menjadi Kristen pada hal keluarganya bukan Kristen, maka ia harus siap untuk dilawan, untuk disisihkan, dan disingkirkan. Harus merelakan hak warisan, merelakan untuk tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga, dan sebagainya. Itulah yang dimaksudkan dengan ayah melawan anaknya laki-laki, dan seterusnya.

Menjadi murid Kristus adalah menjadi orang-orang yang dimerdekakan, menjadi orang yang mempunyai kebebasan penuh untuk berbuat kebaikan. Bebas berbuat baik tanpa dibatasi oleh aturan, tetapi berbuat baik karena mengasihi dan karena hati nurani. Perbuatan baik orang Kristiani tidak dibatasi oleh suku, agama, bangsa, saudara atau musuh, semua mendapat hak yang sama untuk kita perlakukan dengan baik.

Antony de Mello, SJ memberikan renungan berikut ini:

Sungguh pedih membaca tentang kebengisan manusia terhadap sesamanya. Inilah sebuah laporan suratkabar tentang penyiksaan yang dilakukan di penjara-penjara modern.

     Korban diikat pada kursi besi.
     Arus listrik dialirkan dalam tubuhnya,
     semakin lama semakain kuat
     sampai akhirnya ia mengaku.
     Algojo mengepalkan tinjunya dan
     menghantam telinga si korban bertubi-tubi,
     sampai gendang telinganya pecah.
     Seorang tahanan didudukkan di kursi dokter gigi.
     Kemudian dokter mengebor giginya sampai
     menyentuh syaraf. Pengeboran berjalan terus,
     sampai akhirnya si korban menyerah.

Manusia pada hakekatnya bukan makhluk yang bengis. Ia menjadi bengis, kalau ia merasa tidak bahagia atau –kalau ia menganut suatu ideologi. Satu ideologi melawan ideologi yang lain; satu sistem melawan sistem yang lain; satu agama melawan agama yang lain. Dan manusia terhimpit di antaranya.Orang-orang yang menyalib Yesus itu barangkali bukan orang yang kejam. Mungkin sekali mereka itu suami yang penuh pengertian dan ayah yang mencintai anak-anaknya. Mereka bisa menjadi kejam begitu demi mempertahankan suatu sistem, ideologi atau agama. Seandainya orang-orang beragama itu selalu lebih mengikuti suara hati mereka daripada logika agamanya, kita tidak perlu menyaksikan pengikut-pengikut bidaah dibakar, janda-janda terjun dalam api pembakaran jenasah suaminya dan jutaan manusia yang tidak berdosa dibantai dalam peperangan-peperangan yang dilancarkan atas nama agama dan Allah.
Kesimpulannya: Jika engkau harus memilih antara suara yang penuh belaskasih dan tuntutan ideologi, tolaklah ideologi tanpa ragu-ragu. Belaskasih tidak bersifat ideologis.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: